Tuhan dan Argumentasi manusia yang bangsat (Tuhan kami ingin nisan tetapi jangan kenangan)

        Pada saat awal kehidupan kita tidak belajar menangis. Saat bayi menangis di situlah kehidupan dimulai dan awal baru sedang digadai-gadai akan jadi apa dan akan jadi siapa dan entah mengapa kita sibuk untuk mempertanyakan mirip sjapakah? Bagi kita itu sebuah kelogisan dan logika hidup seperti awal mula. Metamorfosis iman baru dimulai dan perjalanan menuju Tuhan atau menyembah berhala sedang dimaklumatkan. Surat permandian kita buat dari Lembaga berwenang dan kita harapkan tidak sewenang-wenang menerapkan iuran pembangunan dan iuran doa moral di hari minggu dan hari raya. 

      Sampai di situ iman kita baru beranjak menuju penguatan struktur dasar menuju dahi lebar dan lapang dada ketika orang tua bicara soal Tuhan itu penyelamat. Kita memasuki lembaga sekolah dan mulai belajar mengenai sesama, tetapi kebanyakan sekolah menerapkan sistem pilih kasih dan memilah-milah dari sejak dahulu kala. Sekolah misi dan didirikan hanya untuk Katolik dan misi yg lainya untuk agama yg lain. Mengenal perbedaan kita gagal pada taraf moral agama. Kita gagal pada konsistensi sekolah misi yg mulai menjarah di banyak bisnis dan banyak upeti pendidikan maupun upeti ahli waris karena faktor kedekatan. Dari sebuah miniatur perbedaan yg kita kenal hanya lawan jenis dan lawan tanding kalau berolahraga di lapangan misi sekolah atau lapangan depan rumah yg ukurannya tidak besar tapi bisa untuk bermain bola dua lawan dua dan tiga lawan tiga bahkan ada yg lebih dari tim yg lain karena mengaggap tim itu lemah dari sisi fisik. Kita sudah mulai menafsir dan mulai sombong dengan fisik yg dulu hanya organ lunak yg tersusun. Kita belajar bela rasa dan bela asa. Sampai pada tahap ini perbedaan adalah pengetahuan masih ala kadar. 

    Tahap berikut adalah pengenalan pribadi baru dan aktivitas baru. Masih mengkotak-kotakkan dan mengkerdilkan perbedaan dengan masuk sekolah yg seagama. Namun, di dalam itu bekal yg cukup sampai pada belajar soal Tuhan dalam alam yg indah. Datanglah bencana kelaparan iman yg dalam dan menyiksa. Kapal yg dulu tegar sudah ombang-amabing. Ketika kepingan-kepingan kesesatan masa kecil belum diterima sepenuhnya maka ada kebingungan besar. Muncullah logika bahwa Tuhan bisa menyembuhkan luka dan gelora yg gersang. Mata kuliah yg makin heboh dengan hobi cerama dan pemikiran pribadi yg kadang dilandasi Masalah pribadi makin sesat di rubrik diskusi. 

      Masalah keluarga kecil yg makin kompleks dan blasteran kenangan yg mencabuli semuanya. Rasa pada harapan seumpama biji sesawi hidup abadi dalam kerapuhan .  Makin ganas dan beringas serba kelebihan pada materi surat suara teori pada awal mula itu bagaimana. Akankah Tuhan menciptakan semuanya? Akankah kita lahir dengan sempurna dan begini adanya? Tuhan itu ada atau tidak? Tuhan itu berjenis kelamin apa?  Pertanyaan serba reflektkf lahir dengan landasan keutuhan tubuh dan jiwa yang sudah mulai lebih kuat bertahan untuk melakukan sebuah debat terbuka dengan Tuhan dalam doa atau pun ruang kuliah.  

            Tuhan 
pada raga kami masih ingin ada nisan 
tapi jangan ada kenangan 
kalau Tuhan Punya ranjang 
saya boleh menumpang tidur dan bercinta di situ 
bangunkan saya pagi-pagi sebab saya masih mau 
memuji dan mengujimu 
apa benar Tuhan maha kuasa

iya Tuhan 

maha  kuasa atas segala bencana dan resah yang ada

dan kami jangan macam-macam 

atau sudah habis masa berlaku 
sebab kami hari ini 
sudah berpikir untuh tidak menghasratimu 

                          Amen 


(Semua isi tulisan di atas adalah hanya refleksi singkat dari penulis dan bukan landasan ontologi tentang Tuhan) 

"Tuhan Masih Hiup?" 

Komentar

Postingan Populer